...........Dirgahayu Indonesiaku ke 68 tanggal 17 Agustus 2013........

Rabu, 31 Juli 2013

Foto-foto masa Dwikora yang tercecer


Koleksi : Suromenggolo
Sumber : http://www.kaskus.co.id/post/50fe483dea74b4e057000008

 
 Howitzer  Type 54  Masa Dwikora

 
LG 105

 




DWIKORA, TERGANYANG DI MALAYSIA

DWIKORA,  TERGANYANG DI MALAYSIA

TERGANYANG DI MALAYSIA


Pesta untuk sang marinir telah usai berjam-jam lalu. Dia tengah mengayuh sampan nelayan menembus garis belakang pertahanan Malaysia di Tawao.

Sampan itu dipenuhi kepiting untuk dijual. Siapa kira timbunan kepiting itu hanya kedok untuk menutupi senjata. Setelah tiga hari mengayuh dan berhasil melewati patroli kapal perang Inggris, sampan itu mendarat di pantai yang sepi di sebelah utara Tawao, Sabah. Target pertama si marinir: menemui seorang haji yang akan menjadi penghubung.

Sial! Haji itu ditangkap tentara Malaysia beberapa hari sebelumnya. Di penanggalan, tercatat waktu: Desember 1964.

Kenangan 42 tahun silam itu kembali berputar di kepala Pembantu Letnan Satu (Purnawirawan) Manaor Nababan, 64 tahun, ketika menuturkan nostalgia itu kepada Tempo, pekan lalu. Ia beruntung pulang dengan utuh seusai konfrontasi Ganyang Malaysia. Tapi teman-temannya? Jangankan nyawa, kerangka pun tidak. “Saya berat bicara soal ini,” ujarnya sembari terisak.

Manaor adalah anggota intelijen tempur Korps Komando (KKO) Angkatan Laut. Ia salah satu dari 30 marinir yang mendapat latihan intelijen di Pulau Mandul, selatan Tarakan, Kalimantan Timur. Mereka disaring dari sekitar 3.000 marinir yang bersiaga di perbatasan-menunggu titah untuk mengganyang Malaysia.

Tugas pun datang kepadanya pada akhir 1964. Pria dari Dolok Sanggul, Tapanuli, ini diperintahkan untuk memetakan posisi dan menghitung kekuatan lawan di sekitar Tawao. Seorang anggota KKO lain dan satu sukarelawan menemani Manaor. Mereka juga bertugas mencari tempat pendaratan terbaik-di wilayah yang berstatus protektorat Inggris kala itu.

Misi ini sejatinya one way ticket alias tak ada jaminan pulang dengan selamat. Maka, “Malam sebelum berangkat, saya dipestakan. Kami makan-makan dan diberi semangat,” kata bapak enam anak ini. “Barangkali juga itu perpisahan.”

Manaor dan kedua rekannya berhasil menyusup ke Tawao. Namun karena penghubungnya tertangkap, mereka masuk hutan. Dua bulan di belantara, Hendrik-sukarelawan TNI bekas bajak laut-tertangkap saat berbelanja makanan. Mereka tak berkutik ketika dikepung tentara Inggris dan Malaysia.

Sebelum Manaor, sekitar empat kompi marinir berhasil menyusup hingga ke Kalabakan, sekitar 50 kilometer di belakang perbatasan Sabah. Pasukan kecil itu dipimpin dua anggota KKO paling disegani, Kopral Rebani dan Kopral Subronto. Keduanya adalah anggota Ipam (Intai Para Ampibi, sekarang disebut Detasemen Jalamangkara) dan sudah kenyang asam-bergaram dalam aneka operasi tempur.

Pada 29 Desember 1963, unit kecil itu berhasil melumpuhkan pos pertahanan tentara Malaysia di Kalabakan. Dalam sejarah militer Malaysia, kejadian ini dikenang sebagai Peristiwa Kalabakan. Dari 41 anggota Rejimen Askar Melayu Diraja yang bersiaga di pos , 8 tewas dan 18 lainnya luka-luka. Salah satu yang mati adalah Mayor Zainal Abidin, komandan kompi. Tapi ajal juga menghadang Rebani dan Subronto di saat pulang.

Januari 1964. Di perairan Tawao, kapal patroli Inggris memergoki rakit mereka. Haram untuk menyerah kepada Inggris. Di bawah bulan yang sedang purnama, perang pecah: rakit versus kapal, senapan melawan meriam. Rebani, Subronto, dan 22 anggota KKO gugur. Tiga tentara berhasil meloloskan diri, yakni Kelasi Satu Rusli, Suwadi, dan Bakar, dicokok pasukan Gurkha di pantai.
Saat ditangkap, mereka sedang mengumpulkan mayat rekan-rekannya yang dapat diseret ke darat. Para Gurkha tak memberi mereka kesempatan untuk menguburkannya. Jenazah dibiarkan tergeletak di pantai!

Adalah Rusli yang menyampaikan cerita itu kepada Manaor. Ia bertemu Rusli sekilas saat keduanya diterbangkan dari kamp tawanan Jesselton (Kinibalu) ke Johor Bahru, Semenanjung Malaysia, awal 1966.

Di Semenanjung, keduanya ditahan di tempat terpisah. Rusli dan 21 tentara yang dijatuhi hukuman 11-13 tahun dibui di Negeri Sembilan. Manaor dikerangkeng di Detention Camp Johor. Sekitar 502 prajurit Indonesia dari berbagai angkatan dikurung di sini untuk digantung karena menjadi penceroboh (pengacau-Red).

Konfrontasi Indonesia-Malaysia yang dikenal sebagai Dwi Komando Rakyat resmi diumumkan oleh Presiden Soekarno di Istana Negara, Jakarta, 3 Mei 1964. Muasalnya adalah upaya Inggris menggabungkan koloninya di Kalimantan (Sabah, Serawak, dan Brunei) dengan Semenanjung Malaya pada 1961. Soekarno, yang menganggap Malaysia sebagai boneka Inggris, memerintahkan tentara untuk menggagalkannya. Caranya, dengan membantu perjuangan rakyat setempat.

Waktu itu sekitar seribu tentara dan sukarelawan menyusup ke Malaysia. Jumlah ini tak sebanding dengan gembar-gembor pemerintah, yang mengatakan ada 22 juta sukarelawan Front Nasional Ganyang Malaysia dan sekitar 8.000 anggota TNI bersiap di perbatasan. Saat dilakukan normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia pada Juni 1966, beberapa ratus pejuang tinggal nama. Mereka tak pernah kembali, seperti kisah Rebani-Subronto.

Manaor dan alumni Dwikora yang berhasil kembali hidup-hidup rupanya punya cita-cita memulangkan kerangka kawan mereka ke Tanah Air. Sayang, upaya yang telah dilakukan berpuluh-puluh tahun itu belum membuahkan hasil. Belakangan, hasrat untuk membawa pulang kerangka-kerangka itu makin menjadi. “Kami tak mungkin menunda lagi karena sudah tua,” kata Kolonel Marinir (Purn.) W. Siswanto, 68 tahun, Ketua Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora.
Kini usia rata-rata pelaku pertempuran itu di atas 60 tahun-sudah di tubir makam. Jika mereka meninggal, ingatan akan pertempuran yang mereka alami akan ikut mati. “Ini menyulitkan identifikasi saat pemulangan kerangka dilakukan,” ujar mantan Komandan Tim Brahma I Marinir di sektor barat (Semenanjung Melayu) itu.
Maksudnya, kesaksian para alumni Dwikora dibutuhkan untuk mengidentifikasi kerangka rekan-rekan mereka. Sebab, prajurit Indonesia yang turut dalam operasi infiltrasi itu menggunakan nama-nama samaran Melayu, tidak ada identitas Indonesia yang dibawa. Pangkat, seragam, dan atribut yang dipakai umumnya milik Tentara Nasional Malaya.
Identifikasi kerangka jenazah bakal mudah jika pemulangan dilakukan lebih cepat. Tapi, itu muskil. Bukan karena mereka terlupakan oleh teman-teman seperjuangannya, “Namun karena situasi politik belum memungkinkan,” kata Siswanto.
Berbeda dengan rekan-rekannya dari Resimen Pelopor (sekarang Brigade Mobil) dan Angkatan Darat, nasib korban Dwikora dari KKO dan Pasukan Gerak Cepat (PGT, sekarang Pasukan Khas TNI Angkatan Udara) terlunta-lunta. Penyebabnya: kedua kesatuan dituduh terlibat pemberontakan PKI.

Tahun 1990-an, ketika sebagian pelaku konfrontasi sudah berpangkat dan menjadi pejabat teras kemiliteran, usaha mulai digulirkan. Saat itu salah seorang tokoh eks Dwikora, Mayor Jenderal Marinir (Purn.) Mohamad Anwar (almarhum), mengirimkan surat permintaan kepada Menko Polkam Laksamana (Purn.) Sudomo. Permintaan tersebut ditanggapi positif dengan pembentukan Tim Penelitian dan Inventarisasi Pemindahan Makam Pejuang Dwikora oleh Menteri Sosial Haryati Subadio.

Pemimpin tim itu adalah Mayor Jenderal (Purn.) Rudjito (almarhum). Hasil kerjanya segera terlihat. Ditemukan 168 prajurit dan sukarelawan yang gugur di Malaysia. Pada masa Menteri Sosial Inten Soeweno dua tahun kemudian, tim tetap dipertahankan dengan beberapa pembaharuan.
Tiba-tiba, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Mayor Jenderal Sudibyo memerintahkan penghentian inventarisasi pada 6 Januari 1996. Alasannya: upaya itu dikhawatirkan bakal merusak hubungan Indonesia-Malaysia.

Reformasi membawa angin segar. Ratusan pensiunan prajurit rendah, ditambah beberapa perwira menengah yang purnatugas, menghimpun diri dalam Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora tahun 1999. Mereka menghidupkan kembali cita-cita memulangkan kerangka rekan-rekannya. Ketua Ikatan Eks Tawanan Pejuang Dwikora saat itu, Kolonel Mar (Purn.) Kadar Mulyono-kini almarhum-mengirim surat kepada Presiden Megawati pada Januari 2003. Surat itu hingga kini tak berbalas.

Lelah menunggu, dua tahun kemudian para pejuang “mengadu” ke DPR. Ketua DPR Agung Laksono menyatakan mendukung rencana pemulangan kerangka prajurit eks Dwikora di Malaysia. Pada saat bersamaan, muncul tanggapan positif dari Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. “Pak Menteri berjanji akan melakukan koordinasi dengan pejabat terkait dan presiden,” kata Siswanto. Lagi-lagi, janji tinggal janji.

Departemen Sosial belum melakukan langkah apa pun seperti dijanjikan menterinya. “Dulu memang pernah dibentuk tim, tapi sekarang belum ada koordinasi,” kata Toto Utomo, Direktur Kepahlawanan Departemen Sosial. Toto menunjuk Departemen Pertahanan atau Markas Besar TNI yang berwenang mengurusi soal tersebut. Apa kata Mabes TNI?

“Saya belum bisa berkomentar, karena baru dengar,” kata Laksamana Muda Sunarto Sjoekronoputra kepada Tempo, pekan lalu.

Kompleks makam di Kampung Kalabakan Lama, Sabah, tampak cukup terawat, kecuali di beberapa gundukan tanah mirip kuburan. Konon itulah makam Rabeni, Subronto, dan beberapa anak buahnya. Tanpa nisan, tanpa nama.

Adalah sesepuh Tawao, Dato Mamun, yang mengidentifikasi makam itu kepada Tempo. “Saya tahu dari mandor hutan yang ada di sana,” ujar mantan warga negara Indonesia yang kini telah dinobatkan sebagai Sultan Bulungan di Kalimantan Timur itu.

Tentara Indonesia yang gugur di Sebatik lebih beruntung. Jenazahnya dibawa ke Tawao dan dikuburkan di pemakaman Melayu, Masjid Wilis. “Kuburnya ada nisan, tapi tanpa nama,” ujar Dato Mamun. Polisi setempat sempat memotret jenazah mereka sebelum dikubur, lalu didokumentasikan.

Maka, harapan untuk menginventarisasi dan memulangkan kerangka pahlawan Dwikora sungguh bergantung pada Malaysia. Sayang, pemerintah negeri jiran itu belum bersedia memberikan tanggapan. Sebabnya, “Kami baru dengar kabar ini,” kata Hamidah binti Azhari, juru bicara Kedutaan Malaysia di Jakarta.

Front Terpanjang
Medan perang itu berserak: di laut, di hutan, di sungai, membentang 2.000 kilometer dari Nunukan di Kalimantan Timur hingga Semenanjung Malaya.

Front Malaka
Medan tempur dengan jumlah korban terbanyak bagi Indonesia.  Kekuatan: 1 brigade (3.500 personel).Gugur: 78; 18 tidak jelas makamnya, 2 dimakamkan di Kalibata Hilang: 70 Ditawan: 217; ditahan di Johor Bahru
Labis dan Pontian, Gugur: 6 PGT Ditawan: 123 PGT Makam: 6 PGT
Kuala Kelang, Ditawan: 19 AD Kota Tinggi Gugur: 25 Pelopor Ditawan: 55 Pelopor Makam: 25 Pelopor
Johor Bahru, Gugur: 27 PGT Makam: 27 PGT
Singapura, Gugur: 20 KKO Ditawan: 19 KKO, 1 Pasukan Katak
Penjara Johor Bahru, Kota Johor Kamp tawanan utama Pasukan Indonesia yang ditawan di Kinabalu dan Tawao diterbangkan ke penjara ini.

Front Kalimantan Timur
Pertempuran paling sengit di front Kalimantan terjadi pada 28 Juni 1965, ketika Korps Komando (KKO) Angkatan Laut memasuki perbatasan Malaysia dari timur Pulau Sebatik. Kekuatan: 3.500 tentara (1 brigade) , Gugur: 15; 11 tak diketahui makamnya Hilang: 6; di laut dan hutan Ditawan: 14; di kamp tahanan Tawao dan Ketayan
Brigade Barat, Panjang front: 1.000 km ,Kekuatan: 5.000 tentara (5 batalion: Inggris 1, Gurkha 3, Malaysia 1), 25 helikopter
Brigade Tengah, Panjang front: 500 km , Kekuatan: 2 batalion Gurkha, 12 helikopter
Brigade Timur, Panjang front: 130 km, Kekuatan: 1 batalion infanteri, pasukan komando, Angkatan Laut Persemakmuran
Nunukan, Ditawan: 7
Kalabakan, Gugur: 1 ,Ditawan: 5 Makam: 1
Pulau Sebatik, Gugur: 3 Makam: 2
Tawao, Ditawan: 2 Makam: 1
Penjara Intelijen Tawao Penjara Ketayan Jezelton, Kinabalu


Sumber :  http://andiaras.wordpress.com/2010/12/01/dwikora-terganyang-di-malaysia/

Nasib Tugu Dwikora Yang Terlupakan












Nasib Tugu Dwikora Yang Terlupakan

Nunukan, ON: Sekilas orang tidak akan menyangka bahwa tugu yang berdiri tegak di depan puskesmas Nunukan Kalimantan Timur adalah bangunan bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia.
-

Tugu yang dicat biru dengan bagian atas bercat merah itu seakan tenggelam oleh megahnya bangunan puskesmas. Belum lagi kehadiran motor yang diparkir sembarangan di sekitar tugu saat puskesmas beroperasi akan semakin menenggelamkan kemegahan tugu setinggi lima meter yang di bangun dari kayu Ulin khas Kalimantan tersebut. Kesan terabaikan terlihat dari pagar sekeliling dari rantai besi yang satu satu mulai rebah tergerus karat.

Remaja di kota Nunukan pun hanya beberapa gelintir yang tahu akan keberadaan Tugu Dwikora, tugu peringatan kepada para pahlawan yang telah gugur dalam perang konfrontasi dengan Malaysia untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Padahal tugu yang diresmikan tahun 1968 oleh Dan Satgas Sigalajan/Dan Brigat-1 KKO AL yang ke 3 Ltk Kalim itu juga menjadi lambang Kabupaten Nunukan.

Keberadaan tugu bersejarah  yang kurang diperhatikan oleh pemerintah daerah disesalkan oleh mantan pejuang konfrontasi dengan Malaysia Sudjana.
Sebagai bangsa besar, seharusnya generasi penerus mampu memelihara keberadaan situs bersejarah bagi perjalanan bangsa ini. 

"Kami tidak minta apa apa, tapi tolong pelihara peninggalan bersejarah seperti Tugu Dwikora ini. Sebagai peringatan kepada anak cucu bahwa kita rela megorbankan jiwa dan raga demi keutuhan negeri ini,"ujarnya.

 Pensiunan Prajurit KKO yang juga sesepuh pejuang dwikora ini menyesalkan jika pemerintah daerah tidak mampu melestarikan Tugu Dwikora yang dibangun tahun 1964 tersebut.
“Jangan ngriwuk tugu yang sudah ada. Harusnya tugu itu bebas dari bangunan disekitarnya. Sebagai bangsa yang besar hargailah perjuangan para pendahulu,”  katanya

Menurut Sudjana yangg masih aktif membuka praktek pengobatan di rumahnya tersebut, dengan memugar peninggalan pejuang terdahulu merupakan bukti bahwa generasi sekarang menghormati dan meneladani semangat perjuangan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di wilayah perbatasan.
   

Sukotjo / Gunawan 
Sumber :  http://www.obornews.com/2324-berita-nasib_tugu_dwikora_yang_terlupakan.html
 

Tugu Dwikora di Lambang Daerah Kabupaten Nunukan



Bentuk dan Arti Lambang Daerah
Lambang daerah berbentuk perisai bersudut lima, yang melambangkan alat pelindung dalam mencapai cita-cita pemerintah dan rakyat Kabupaten Nunukan. 
Arti/Makna Lambang Daerah  
a.
Warna 

1. Hijau: melambangkan kemakmuran


2. Kuning: melambangkan keluhuran


3. Coklat: melambangkan ketabahan


4. Biru: melambangkan keteguhan


5. Merah: melambangkan keberanian


6. Putih: melambangkan ketulusan/kesucian
b.
Bintang bersudut lima, melambangkan Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila secara untuk mencakup kelima silanya.
c.
Tulisan Kabupaten Nunukan adalah nama Kabupaten Nunukan yang berasal dari kata Nunuk bahasa Tidung yang berarti pohon beringin 
d.
Tugu, melambangkan prasasti perjuangan rakyat Nunukan dari tahun 1963 sampai 1967 ketika terjadi konfrontasi dengan negara tetangga, Malaysia, yang dikenal dengan nama Dwikora. 
e.
Perisai, mandau, dan tombak, melambangkan senjata tradisional dari suku pedalaman (Dayak) yang merupakan penduduk asli Kabupaten Nunukan. 
f.
Orang bergandengan tangan, berada di dalam garis empat yang terletak di tengah-tengah perisai, melambangkan penduduk yang berdomisili di Kabupaten Nunukan terdiri dari berbagai suku dan agama yang dianut, tetapi tetap bersatu dan rukun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Kabupaten Nunukan. 
g.
Perahu, melambangkan salah satu alat transportasi umum. 
h.
Padi dan kapas, melambangkan sandang pangan. 
i.
Gelombang air tiga buah, melambangkan bahwa Kabupaten Nunukan dilalui oleh tiga buah sungai yaitu sungai Sembakung, sungai Sembuku, dan sungai Semegaris. 
j.
Tugu bergaris dua belas, tangga tugu sejumlah sepuluh, dan perahu bergaris sembilan ke kiri dan sembilan ke kanan, berarti tanggal peresmian Kabupaten Nunukan yaitu pada tanggal 12 bulan 10 tahun 1999. 
Motto Penekindi Debaya, yang berarti "membangun daerah" merupakan cita-cita rakyat Kabupaten Nunukan untuk mencapai masyarakat bahagia, adil, makmur, serta tenteran yang diridhoi oleh Tuhan Yang Mahaesa. 
Lambang daerah Kabupaten Nunukan mencerminkan keadaan Kabupaten Nunukan masa lalu, masa kini, dan masa datang. 

Sumber : http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/64/name/kalimantan-timur/detail/6405/nunukan

Tugu Dwikora-Bukti Sejarah Perjuangan Bangsa di Nunukan

KASAL Minta Dipercantik, Siapkan Tank dan Meriam  
Tugu Dwikora-Bukti Sejarah Perjuangan Bangsa di Nunukan

Bukti sejarah perjuangan bangsa ini-khususnya tugu Dwikora yang masih berdiri tegak di pintu perbatasan-Kabupaten Nunukan, wajib dilestarikan. Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Nunukan juga punya komitmen itu.

Samsul Malhotra----

Tugu itu tingginya kurang lebih 5 meter, terawat, dan dengan warna yang masih segar dilihat. Meski berada di halaman Puskesmas Nunukan, tugu tersebut selalu mendapat tempat untuk dihormati. Buktinya, beberapa kali peringatan hari besar nasional, salah satunya untuk mengenang perjuangan era konfrontasi Indonesia-Malaysia, di pusatkan di tugu tersebut.

Tugu bukan sekadar tugu, keberadaanya seharusnya bisa membekas, khususnya bagi generasi muda Nunukan. Jiwa nasionalisme perlu ditanamkan, agar tidak hanya dengan belajar di bangku pendidikan. Tapi, tindakan nyata dengan menjaga bukti sejarah tersebut.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr  Marsetio MM dalam lawatannya belum lama ini ke Nunukan dan Sebatik-tegas soal menjaga tugu Dwikora. Ia bahkan memerintahkan Lanal Nunukan untuk lebih mempercantik monumen sejarah yang telah lama dimiliki daerah ini.

Danlanal Nunukan Letkol Laut (P) I Bayu saat dikonfirmasi hal tersebut membenarkan arahan KASAL. Ia mengatakan, untuk menambah daya tarik masyarakat Nunukan untuk lebih memperhatikan bukti sejarah yang dimiliki. Apalagi di Pulau Nunukan ini merupakan lokasi terbesar terjadinya Dwi Komando Rakyat (DWIKORA). Pihaknya, merencanakan menempatkan 2 alat perang yang sudah tidak difungsikan di samping tugu Dwikora. Yakni, tank dan meriam.

Dengan tujuan, lanjutnya, agar bukti sejarah yang dimiliki di wilayah perbatasan ini semakin terlihat dan mengenang kebesaran peristiwa sejarah perjuangan DWIKORA. Dimana, tahun 1961 Malaysia berkeinginan menggabungkan Brunei, Sabah, dan Serawak dalam Persekutuan Tanah Melayu.
Namun, ditentang keras oleh Presiden Soekarno. Konfrontasi antara Indonesia–Malaysia yang terjadi tahun 1962-1966 dimana sangat menentukan nasib masa depan Kalimantan.

“Selain itu, tugu tersebut dapat dijadikan tempat pendidikan edukasi kepada pelajar-pelajar di Nunukan. Seperti apa sejarahnya, dan tentunya masyatakat Nunukan juga dapat menjadikannya tempat rekreasi,” idenya.

Selama ini, lanjut Danlanal, tugu Dwikora sudah sering dilakukan perawatan. Seperti beberapa waktu lalu dilakukan pengecatan dan membersihkan halaman dimana tugu berdiri. Namun, masih belum dapat menarik perhatian masyarakat.

“Untuk itu, kita sangat meminta dukungan seluruh masyarakat, instansi terkait, veteran dan tentunya dukungan penuh pemkab Nunukan agar keinginan kita dapat terwujud . Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang harus merawat dan menjaga bukti sejarah ini,” pesannya.

Sementara itu, Amir Tuwing anggota PPM Nunukan sangat mengapresiasikan sikap Lanal Nunukan untuk menjaga dan merawat monumen tugu Dwikora yang merupakan bukti adanya pejuang di bumi Panguntaka, yakni mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan NKRI.

“Saya sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi atas sikap yang dilakukan Lanal Nunukan. Saya yakin, jika rencana tersebut terwujud, maka masyarakat akan banyak mengunjungi tugu tersebut,” yakinnya.

Dikatakan, tidak banyak yang diinginkan para pejuang yang telah gugur maupun yang masih hidup. Mereka hanya ingin apa yang telah dipejuangkan dapat dipertahankan dan dijaga. Tidak lebih.

“Mencintai negeri ini merupakan salah satu bentuk dari penghargaan kita kepada pahlawan. Mencintai negeri ini berarti menjaga negeri ini dari kerusakan, baik secara fisik maupun mental. (hms/ica)

Senin, 1 Juli 2013
Sumber : http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Nunukan/39860
 

DANLANAL NUNUKAN PIMPIN APEL BERSAMA PERAWATAN TUGU DWIKORA

 

DANLANAL NUNUKAN PIMPIN APEL BERSAMA PERAWATAN TUGU DWIKORA


Di Tugu Dwikora depan Alun Alun Kota Nunukan, baru-baru ini dilaksanakan apel bersama yang dipimpin Komandan Lanal Nunukan Letkol Laut (P) I Bayu Trikuncoro hadir dalam acara tersebut Dandim 0911/Nnk Letkol Inf Budijanto, Dansatgas Pamtas 407/PK Letkol Inf Ari Aryanto, Kapolres Nnk AKBP Achmad Suyudi, S.Ip., Kasatpol PP Nunukan, Ketua LVRI Nunukan, perwakilan Ormas dan Sujana (pelaku sejarah Dwikora di Nunukan).
Dalam sambutannya Danlanal menyampaikan “Perawatan Tugu Dwikora ini memiliki arti yang sangat penting, disamping tetap terjaga kebersihan dan keindahannya juga sebagai penghormatan kepada para Pahlawan yang telah mendharmabaktikan jiwa raganya kepada Nusa dan Bangsa karena Bangsa yang besar adalah Bangsa yang mau menghargai dan menghormati para pahlawannya.
Apel bersama ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan artar instansi TNI Polri, ormas dan Masyarakat yang dituangkan dalam kegiatan Perawatan Tugu Dwikora dengan Korlap Lettu Laut (KH) Dr. Gilang S.
(Pen Lanal Nunukan)
posted @ Saturday, April 06, 2013 8:56 PM by Dispenal Mabesal 

Sumber : http://www.tnial.mil.id/tabid/79/articleType/ArticleView/articleId/12583/Default.aspx

Napak Tilas Dwikora di Nunukan

46 Tim Ramaikan Napak Tilas Dwikora di Nunukan

Minggu, 23 Oktober 2011 16:35 WIB
 
Napak Tilas Dwikora garapan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Nunukan diramaikan puluhan tim dari lintas instansi.

Humas Panitia Jufri mengatakan, hingga penutupan pendaftaran Sabtu (22/1 /2011) sore, jumlah peserta yang mengembalikan formulir seluruhnya 46 tim. Calon peserta berasal dari instansi pemerintah baik vertikal maupun daerah, termasuk ormas, pelajar dan pramuka.

“Sebenarnya masih ada yang ingin mendaftar, tapi kita konsisten dengan jadwal semula. Sabtu sore pendaftaran sudah ditutup,” ujarnya, Minggu (23/10/2011) hari ini.

Jufri menjelaskan, sejumlah pimpinan instansi juga dipastikan ikut dalam kegiatan tahunan KNPI Nunukan ini. Diantaranya Kepala Kantor Imigrasi Nunukan Andi Rodja Ibrahim, Kepala PT Pelni Nunukan Robert Mandagi dan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Nunukan Juni Mardiansyah.

Setelah mengembalikan formulir, para peserta diundang untuk mengikuti pertemuan teknis sekaligus pengambilan nomor peserta pada Senin (24/10/2011) malam pukul 20.00 di Sekretariat KNPI Kabupaten Nunukan Jalan Bhayangkara.

“Melalui Tribunkaltim.co.id, kami mengimbau agar setiap peserta mengirimkan seorang wakilnya hadir pada technical meeting sekaligus pengambilan nomor. Sebab banyak peserta yang tidak mencantumkan nomor kontak di formulir sehingga kami kesulitan untuk menghubunginya,” ujarnya.
Penulis: Niko Ruru
Editor: Fransina 
 
Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2011/10/23/46-tim-ramaikan-napak-tilas-dwikora-di-nunukan