...........Dirgahayu Indonesiaku ke 68 tanggal 17 Agustus 2013........

Minggu, 11 Agustus 2013

Kisah Kisah Perjuangan Dwikora

Kisah Kompi X di Rimba Siglayan Kal-tim

Dua hari menjelang tanggal 17, empat tim yang sudah ditunjuk berangkat keempat penjuru untuk mencari dan menembak babi. Untuk sementara larangan menembak dicabut. Dalam keadaan “normal” letusan senjata berarti kontak dengan musuh, dan demi kerahasiaan, dilarang menembak tanpa tujuan yang jelas.
 
Nasib untung masih berfihak pada kami, pada sore hari ketika tim pemburu ini kembali, mereka datang sambil memikul empat ekor babi hutan.

Sementara itu pada tanggal 16 Agustus, untuk membuat musuh panik, saya perintahkan seksi mortir 81 dikawal satu regu untuk menyerang pos musuh dengan menggunakan mortir 81. Tentu sangat sulit untuk menembakkan mortir di tengah hutan yang tertutup semacam hutan Siglayan ini. Harus dapat menemukan lubang agar dapat menembak. Tetapi mereka tidak kurang akal. Pada suatu medan yang agak terbuka, mereka berhasil menembakan enam peluru mortir 81 dengan jarak sejauh mungkin, sekitar tiga setengah kilometer. Setelah berhasil menernbakkan enam butir peluru secara beruntun, pasukan kembali secepat mungkin agar tidak dapat dibaring dan dibalas oleh musuh.

Menurut data intel yang kemudian kami peroleh dari penduduk sipil yang berhasil masuk ke Tawao, serangan ini berhasil mengenai sasaran dan menewaskan satu orang. Rupanya, lawan juga sudah mengantisipasi kemungkinan kami menyerang pada sekitar tanggal 17 Agustus ini. Tetapi karena kami menyerang sehari sebelumnya, mereka panik, dan mengira kami akan menyerang secara besar-besaran. Buktinya, tepat pada tanggal 17 musuh menembaki seluruh hutan itu dengan mortir selama satu hari penuh. Kami hanya menyambut dengan santai. Tidak perlu dibalas, karena tembakan mereka sangat tidak terarah. Maklum tembakan orang lagi panik. Tanggal 17 Agustus pagi kami siap mengadakan upacara penaikan bendera. Jam delapan, pasukan pengaman sudah menempati pos masing-masing. Seluruh anggota berpakaian tempur lengkap.

Jam sembilan kurang seperempat, pasukan upacara sudah siap di lapangan upacara. Jam sembilan kurang lima menit saya selaku pemimpin upacara memasuki lapangan upacara. Sersan Mayor Zaini, bintara peleton satu, menjadi komandan upacaranya. Penaikan bendera dimulai dilakukan oleh Kopral Adam dan seorang prajurit, diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara. Tiba-tiba menjelang bendera sampai kepuncak tiang, rotan tali bendera putus. Lagu kebangsaan berjalan terus. Terpaksa tiang dicabut, bendera diikatkan di puncak tiang, tancapkan lagi ditempat semula, Namun upacara tidak terganggu oleh insiden ini, tetap khidmat Semua anggota merasakan suasana anggunnya upacara memperingati hari kemerdekaan ini walaupun ada sedikit gangguan putusnya tali bendera.(kepercayaan yang berkembang, bila tali bendera putus pada waktu upacara, biasanya akan ada peristiwa yang gawat, mendebarkan)

Dalam pidato sebagai amanat inspektur upacara, saya mencoba memberikan semangat dengan menjelaskan mengenai tugas kompi X maupun anggota Kompi Brahma (satu peleton) sebagai prajurit yang sedang melaksanakan tugas suci karena mengemban tugas negara walaupun sekarang sedang berada di tengah hutan di perbatasan Kalimantan Utara, jauh dari Surabaya sebagai “homebase” kompi X maupun pasukan induk, yang ada di Pulau Nunukan, tetapi pasukan harus tetap tabah menghadapi situasi dan kondisi saat ini. Jangan berfikir yang tidak-tidak seperti merasa dibuang dan seterusnya. Kita adalah ksatria yang pantang menyerah.


Menjelang tanggal 31 Agustus 1965, datang peringatan dari batalyon melalui radio GRC-9, mengingatkan hari kemerdekaan Malaysia yang akan jatuh pada tanggal 31Agustus 1965, supaya kompi yang ada di Siglayan waspada. Sebenarnya peringatan itu tidak begitu perlu. Kami sudah siap menghadapi mereka kalau memang berani datang menyerang. Pedoman Marinir “pantang mundur”, terus bergema dibenak masing-masing anggota. Pertempuran di dalam hutan berarti pertempuran jarak sangat dekat. Ternyata tanggal 30 dan tanggal 31 Agustus tidak ada kegiatan lawan. Kami agak mengendorkan kesiagaan.

Tanggal 1 September 1965 sekitar jam sembilan pagi secara tak terduga kami diserang dengan rentetan tembakan senjata ringan secara serentak. Dari arah depan kiri. Karena terkejut, ada anggota di lapis depan yang langsung panik dan saya mendengar ada yang mengatakan :“mundur…”. Saya segera maju, kupertahanan peleton dua untuk mencari sumber tembakan. Beberapa anggota sudah ada yang bergerak mundur saya segera bertindak. Sambil membentak ‘tetap ditempat” diiringi suara kepala regu satu pleton satu, Sersan Suprapto dibelakang saya “ dengarkan suara tembakan, dari mana arahnya”. Teriakan ini membuat pasukan menjadi tenang kembali. Semua siap menghadapi kemungkinan serangan lanjutan.

Semua segera tiarap dengan memegang senjata masing-masing. Dalam situasi menunggu, saya perin-tahkan mencari awak mortir 81 untuk segera masuk seteling. Ternyata me-reka tidak ditempat. Kemarin, me-mang ada pergantian awak mortir Karena itu, mereka empat orang dipimpin seorang kopral sedang mencari kayu untuk mendirikan baraknya. Tidak lama kemudian mereka muncul sambil terengah-engah “Siapkan mortir siap menembak” Saya perintahkan segera. Karena mereka hanya ada empat orang dan harus melayani dua pucuk mortir, mereka gugup dan kewalahan. Saya perintahkan anggota yang berdekatan, kopral Adri Waroka dan prajurit lainnya untuk membantu menyiapkan peluru mortir.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi peluru meriam mendekat. Ses-ses-ses……….Dan disusul bunyi ledakan di sebelah kiri petak pertahanan. Untung peluru pertama musuh jatuh sekitar 500 meter disamping kami, tidak mengenai seorangpun. Bau mesiu makin merangsang semangat tempur kami. Kini kami benar-benar sudah siap untuk bertempur. Segera terjadilah saling tembak yang kurang seimbang. Musuh menggunakan artileri, jarak tembaknya bisa lebih jauh dan tembakan mortir karena kami hanya menggunakan dua pucuk mortir.

Saya minta satu pucuk menembak dengan jarak maksimal dengan isian penuh, satu pucuk melindungi pasukan kawan di seberang sungai, disana ada dua regu yang menembaki pos di seberang sungai, setiap regu terpisah satu di sebelah kiri depan kompi, satu lagi regu yang menjaga “Pos Tanah Merah’’. Pos inilah yang mendapat serangan pertama. Rupanya musuh masih mempunyai data awal, yaitu terbukti hanya menembaki barak yang pertama dibuat yang lokasinya lebih ke hulu sungai, persis di belokan Siglayan, tempat para gerilyawan memasuki Sabah pada tahun 1963. Sedang kedudukan kami sekarang sudah mundur lebih 500 meter lebih ke belakang.

Pos pertama ini sudah beberapa kali mendapat kiriman peluru meriam musuh. Karena itu, tembakan musuh jatuh di samping kiri depan kedudukan kami atau jatuh di depan kami di rawa-rawa, jadilah hari itu tembak menembak sampai berhenti total jam empat sore. Hanya menjelang peluru meriam akan jatuh ke tanah, kecepatan peluru sudah lemah dan mengeluarkan bunyi ses… ses… ses, kami harus waspada. Itu artinya peluru sudah hampir tiba. Semoga tidak jatuh di daerah posisi sekarang.


Menghadapi ulah peluru demikian, hati menjadi ciut, karena tidak tahu dimana peluru itu akan kehabisan tenaganya. Dan kami hanya bisa berdoa Tuhan, lindungi kami. Yang jelas, bagi pasukan yang pernah mendapat serangan meriam seperti ini, kalau dia selamat, akan menjadi kenang-kenangan yang indah dalam hidupnya Sementara itu, musuh mengirimkan pelurunya secara terus-menerus dan lebih cepat. Mungkin mereka menembak dengan enam pucuk meriam sedang kami hanya memiliki dua pucuk mortir 81. Itupun masih kami anggap untung, karena sebelumnya kami hanya memiliki AK dan RPD saja.

Dengan adanya tembakan balasan dari kami, musuh akhirnya lari terbirit-birit, tidak jadi mengadakan serangan jarak dekat. Ketika besok paginya saya mengadakan patroli pengejaran mulai di sekitar pos Tanah Merah, sesuai jejak yang kami temukan, ternyata pada kemarin malamnya, musuh bermalam tidak jauh dari pos Tanah Merah, sekitar 500 meter, di seberang lembah. Rupanya musuh tidak tahu, ada satu regu menduduki medan di depan mereka.

Setelah pertempuran selesai, saya cek jumlah anggota, ada dua anggota hilang. Saya bersama yang lain terus mencari mungkin mereka terluka atau gugur. Untung sebelum gelap, dua prajurit ini muncul dan segera memeluk saya. Karena girangnya rupanya begitu musuh membrondong mereka, mereka sempat loncat ke tebing di atas sungai Siglayan dan kebetulan di sana ada sebuah lubang mirip gua, sehingga kedua prajurit ini dapat bersembunyi dengan aman dan mereka tak dapat diketemukan musuh yang berada di atasnya. Melihat bekas tembakan serentak musuh, lokasi di mana terjadi tembak-menembak, semak belukarnya sudah rata seperti dibabat dengan parang.

Karena itu saya menduga, dua orang ini sudah gugur atau tertangkap musuh. Ternyata keduanya selamat, tak ada sehelai bulunya yang tanggal. Dasar nyawanya masih betah tinggal di tubuhnya, dan rupanya belum mau pindah ke akhirat. Dari penelitian selanjutnya, ternyata masih ada satu orang lagi yang hilang, yakni prajurit dua marinir Panut, caraka komandan peleton dua. Empat hari kemudian, jenasahnya diketemukan mengambang di sungai. Malam itu saya menemani regu yang mendapat serangan musuh pada siang harinya, untuk mendorong semangat tempur regu itu. Selamat jalan Panut. Apakah ini arti tali bendera putus waktu penaikan bendera? Jenasah Prajurit marinir Panut dimakamkan juga di TMP Jayasakti Nunukan


Operasi Pendaratan KKO di Pontian, Johor Baru\

Operasi ini sebenarnya disebut Ops A, yaitu operasi intelijen yang lebih menekankan hasil pada efek politis daripada efek militer. Misi yang diemban pasukan ini adalah untuk mendampingi gerilyawan local dalam operasi militer, memberi pelatihan pada kader kader setempat yang dapt dikumpulkan di daerah sasaran, dan setelah dianggap cukup mereka akan kembali ke pangkalan.
 
Dari keterangan seorang anggota MArinir yang kembali pada tahun 1967, Serma Z. Yacobus, yang dalam operasi tersebut masih berpangkat kopral, di dapat keterangan sebagai berikut :
Tim 3 dari Kompi Brahma II menggunakan kapal patroli cepat, milik Bea Cukai. Tim operasi terdiri dari 21 anggota. Rombongan dibawa menuju suatu tempat diperbatasan pada tanggal 17 Agustus 1964 sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Pelayaran memakan waktu sekitar 4 jam. Setelah mendapat perintah dari masing masing komandan tim dan juga menerima perlengkapan tambahan, sekita pukul 01.30 tengah malam rombongan menerima briefing dari komandan basis II, dilanjutkan dengan embarkasi ke dalam 2 perahu motor yang telah dipersiapkan. Sembilan orang sukarelawan lokal dari Malaysia juga ikut dalam tim dan akan bertindak sebagai penunjuk jalan. Dengan demikian jumlah tim menjadi 30 orang.
 
Dengan menggunakan formasi berbanjar, berangkatlah kedua perahu tersebut menuju sasaran. Salah satu mengalami kerusakan mesin dan akhirnya kedua tim pun menjadi satu menuju sasaran. Sekitar pukul 06.30 kedua tim sampai ke daerah sasaran tanpa diketahui oleh musuh. Ternyata daerah pendaratan merupakan daerah rawa rawa yang berlumpur. Kedua tim memutuskan untuk bertahan di situ yang jaraknya sekitar 50 meter dari pantai pendaratan. Namun rencana penyusupan ini dikhawatirkan sudah diketahui oleh musuh, sehingga mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan gerakan dahulu dan tetap berlindung di semak semak sambil menunggu hari menjadi gelap.( Ulasan Spahpanzer : Gw pernah baca artikel di internet entah di mana gw lupa, ternyata memang banyak operasi penyusupan rahasia ke wilayah Malaysia yang sengaja dibocorkan oleh oknum oknum di dalam TNI sendiri ke pihak lawan, menurut artikel tersebut ).
 
Pukul 19.00 tim baru dapat meninggalkan tempat persembunyian dan mencoba menyusuri medan berawa tersebut dengan susah payah dan pukul 03.00 pagi mereka beristirahat. Demi keamanan, kedua tim berpisah. Tim I dipimpin serda Mursid sebagai komandan tim, dan tim 2 dipimpin Serda A. Siagian. Rupanya kedudukan infiltran sudah diketahui pasukan keamanan setempat, kerana setelah 3 jam pasukan berada di situ, kedudukan mereka sudah dikepung musuh. Diperkirakan kekuatan musuh satu peleton ( 30 – 40 orang ).
 
Musuh melakukan tembakan pancingan untuk mengetahui posisi pas pasukan, disusul dengan ledakan granat tangan. Maka pertempuran pun tak dapat dihindarkan lagi. Kemampuan bertempur musuh ternyata masih di bawah kemampuan pasukan Marinir. Beberapa orang musuh tertembak mati. Di pihak tim gugur satu orang penunjuk jalan. Merasa tidak dapat mengimbangin Marinir pertempuran tersebut, makan pihak musuh mendatangkan bantuan 2 helikopter dan satu pesawat. Namun sebelum bantuan tersebut tiba, pasukan Marinir telah bergerak meninggalkan lokasi kontak senjata dan mencari tempat yang lebih aman untuk bertahan dalam raa rawa tersebut.
 
Musuh pun kemudian menggunakan anjing penjejak untuk melacak kedudukan tim Marinir. Pada tanggal 19 Agustus 1964, komandan tim memerintahkan 2 penunjuk jalan asal Malaysia untuk melakukan pengintaian dan mencari informasi dengan menyamar berpakaian seperti penduduk biasa. Namun hingga senja, keduanya belum juga kembali. Untuk mengatasi keragu raguan, komandan tim memutuskan untuk tidak menunggu mereka lebih lama lagi. Pasukan segera bergerak meninggalkan lokasi. Senjata dan perlengkapan keduanya disembunyikan di dalam lumpur untuk menghilangkan jejak.


Dalam perjalanan, tiba tiba tim mendapat serangan mendadak dari musuh. Dengan semangat Marinir “Pantang mundur, mati sudah ukur” tim melawan musuh dengan gigih. Beberapa musuh terluka. Hal itu didasarkan pada keterangan penduduk setempat yang sepat ditemui tim setelah selesainya pertempuran. Dipihak Marinir, satu orang penunjuk jalan asal Malaysia gugur.
 
Malam itu tim terpaksa beristirahat lagi sambil berlindung selama satu hari dan selanjutnya kembali bergerak, namun mereka tidak dapat menuju sasaran yang direncanakan karena sudah diketahui oleh musuh. Hal ini diketahui dari adanya bunyi rentetan tembakan. Rupanya telah terjadi kontak senjata antara tim yang dipimpin Serda Mursid dengan pihak musuh. Tugas tim kedua adalah mengadakan pencegatan, namun karena tim tidak dibekali dengan alat komunikasi, maka tugas ini pun gagal.
 
Satu jam kemudian pertempuran pun reda. Tim Marinir memutuskan untuk bersembunyi di rawa tak jauh dari perkampungan penduduk. Setelah 1 jam beristiharat, gerakan diteruskan menuju kampung dan sampi di sebuah rumah dan menemui penghuninya yang mengaku bernama Hasan. Hasan ini mengaku keturunan Indonesia asal Jawa.
 
Di rumah tersebut tim mendapat pelayanan yang cukup baik, sehingga terjadilah percakapan yang kurang hati hati dari tim yang menyangkut penugasan tim. Tanpa rasa curiga, Hasan pun menyatakan bersedia bekerja sama dengan tim Marinir. Bahkan Hasan pun sudah menunjuk tempat perlindungan yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya, sekitar 1 km dari perkampungan.
 
Pada tanggal 30 Agustus tengah hari, datanglah Hasan membawa seorang laki laki yang diakuinya sebagai pamannya ke tempat persembunyian tim, untuk menyampaikan informasi. Kemudian ia menyarankan agar tim berpindah lagi ke gubuk lain sejauh 500 meter dari persembunyian pertama. Karena sudah terlanjur percaya pada si Hasan, tim pun segera bergerak ke lokasi yang ditunjukkan.
Namun apa yang terjadi ?
 
Sekitar setengah jam kemudian, tim mendapat serangan mendadak sehingga tim kehilangan 2 anggota yaitu Prajurit Satu Kahar dan seorang guide asal Malaysia. Kopral Yacobus terkena tembakan di siku kanan, hngga senjatanya lepas. Prajurit Satu Siahuri terluka parah, sedangkan Kopral Priyono berhasil menyelamatkan diri ke sungai. Di tengah tengah situasi terjebak tembakan gencar tersebut, musuh berteriak “ Surender !!! Surender !!!” Teriakan ini diulangi lebih keras “Kalau mau hidup, Surender cepat !!!”
 
Anggota tim yang pingsan dan banyak mengeluarkan darah ini tertangkap musuh. Selanjutnya mereka dirawat seperlunya oleh musuh dan diserahkan ke Balai Polis setempat.
Ternyata si Hasan ini adalah pengkhianat. Pura pura mau menolong ternyata ada udang di balik batu. Ia mengharapkan hadiah dari aparat keamanan setempat, apalagi jika dapat menangkap pasukan Marinir Indonesia. Siagian sendiri akhirnya tertawan, sedangkan 3 anggota tim lainnya berhasil kembali ke pangkalan di Indonesia dengan selamat.
 
Regu satu yang dipimpin Serda Mursid akhirnya sampai di Gunung Pulai. Namun karena lokasi sasaran sudah diketahui musuh sebagai daerah tujuan tim, pasukan Marinir dikepung oleh musuh yang jauh lebih kuat. Terjadilah pertempuran sengit hingga akhirnya pasukan Serda Mursid kehabisan peluru. Mereka tetap gigih melawan hingga akhirnya 3 orang anggota pun gugur, termasuk Serda Mursid sendiri. Sisa anggota regu tertawan musuh.
Maka berakhirlah kisah heroik operasi pendaratan di Pontian, Johor Baru, Malaysia.
 
Nama nama anggota Marinir yang gugur di Pontian :
1. Prajurit Satu Kahar ( IPAM )
2. Sersan Mayor Satu Mursid ( IPAM )
3. Sersan Satu Ponadi ( IPAM )
4. Sersan Satu Mohamadong ( Pasinko )
5. Sersan Dua Yacob ( IPAM )
6. Sersan Dua Tohir ( Batalyon 3 )
7. Kopral Syahbuddin ( Pasinko )
8. Kopral Dulmanan ( IPAM

Sumber : http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TMGJJ2H3S06UTC8A0

Tidak ada komentar:

Posting Komentar